Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Berita Kemanusiaan. Show all posts
Showing posts with label Berita Kemanusiaan. Show all posts

PKPU Tetap Salurkan Bantuan Pengungsi Rohingya

RAKHINE - Situasi bergolak yang masih terus membayangi muslim Rohingya di Maungdaw tidak menyurutkan aktifitas bantuan kemanusiaan di Rakhine State.  Di tengah kekhawatiran pekerja kemanusiaan Internasional yang masih menahan diri untuk memberikan respon, Tim Lembaga Kemanusiaan PKPU berhasil menyalurkan bantuan langsung ke dalam pusat pengungsian (26-27/11).

Bantuan yang diberikan diantaranya berupa beras, 350 potong pakaian wanita serta makanan bayi dan anak-anak.  Para pengungsi menuturkan kekhawatiran mereka karena konflik yang terus meningkat. Konflik tersebut tentu saja sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan keamanan para pengungsi.

Selain melakukan penyaluran bantuan, tim PKPU juga melakukan pemantauan program yang selama ini terus berjalan di pusat-pusat pengungsian Rohingya di Negara bagian Rakhine khususnya di Sittwe. Di Kota yang menjadi ibu kota negara bagian Rakhine tersebut, tim PKPU memasuki perkampungan yang aksesnya oleh militer setempat terlarang dan masih tertutup oleh bantuan dari luar.

Pelarangan diperkuat dengan semakin meningkatnya pembakaran rumah-rumah dalam sebulan terakhir khususnya di bagian utara Myanmar. Seperti diketahui, bahwa perkampungan-perkampungan ini merupakan pusat aktifitas ekonomi dan pendidikan bagi anak-anak pengungsi Rohingya.

Kota Maungdaw dan Buthidaung akhir-akhir ini menjadi perhatian publik internasional ketika di awal Oktober lalu terjadi pembakaran rumah dan pengusiran penduduk di beberapa desa di wilayah utara Myanmar yang dihuni oleh Muslim Rohingya. (Kaimuddin/Putri/PKPU)

Tidak Cukup Bermodal Semangat

Menyampaikan bantuan di wilayah konflik sangatlah berbeda dengan memberikan bantuan di wilayah bencana alam. Di wilayah konflik, pegiat kemanusiaan harus cermat dan tepat dalam memberikan bantuan. Di mulai dari upaya mencari akses agar dapat masuk ke wilayah pusat konflik yg biasanya tertutup untuk orang asing. Terlebih lagi apabila konflik terjadi di luar negara kita yang memiliki perbedaan bahasa, budaya, perilaku dan tradisi/ agama yang pastinya akan menambah tingkat kesulitan untuk mengelolanya. 

Permasalahan tidak selesai ketika kita sudah mendapatkan akses masuk, tetapi menentukan pihak- pihak yg dianggap "netral" dan berani membantu memfasilitasi pendistribusian bantuan bukanlah perkara mudah. Bila salah langkah dan strategi bisa menjadi bumerang bagi diri maupun warga yg terdampak konflik. Konflik bisa kembali memanas dan keselamatan pegiat kemanusiaan pun menjadi taruhannya.

Untuk masuk ke wilayah hotspot konflik Rohingya pertama tahun 2012 di Sittwe, Rakhine State, penulis harus menunggu 4 hari di Kota Yangon. Sementara visa hanya berlaku untuk 7 hari.  Berbekal informasi terbatas bersama pegiat kemanusiaan Malaysia, Wan Yusof & Wan Zukri, penulis mencari para pihak yg dapat memfasilitasi perjalanan ke pusat konflik. Sempat putus asa, namun kekuatan terakhir ada pada doa yang senantiasa dilantunkan agar diberikan "rizki" untuk bisa masuk ke Sittwe. Ketika ada pihak yang menyanggupi, ternyata tidak semua travel agent mau menjual tiketnya. Alhamdulillah, ada relasi kenalan kami yang memiliki travel agent sehingga mau membantu menjual tiketnya. Dan itu pun 3 seat terakhir di penerbangan hari berikutnya.

Ketika tiba di Sittwe, dengan dibantu seorang pemberani bernama Chit Koko O kami mengellilingi Kota Pusat kerusuhan tersebut. Situasi belum terlalu kondusif, padahal sy datang 3 bulan paska puncak kerusuhan. Setelah mendapatkan pihak yang dapat dipercaya untuk menyalurkan bantuan  ke kedua komunitas yang berkonflik. Penulis tinggal selama 3 hari di Sittwe untuk bisa masuk ke pengungsian, masuk ke Kampung Aung Mingalar (satu-satunya kampung Rohingya yang selamat dari pembakaran dan kini terisolasi oleh militer & radikal buddhist) dan sisa2 pembakaran perkampungan Rohingya serta bertemu dengan pemerintah lokal Rakhine. Meskipun dilalui dg tingkat ketegangan yg tinggi, alhamdulillah misi berjalan dengan baik meskipun  penulis harus overstay selama 1 hari di Myanmar dan bersiap untuk diinterogasi oleh petugas imigrasi Myanmar di Bandara Yangon.

Pengalaman ini memberikan pesan kepada penulis bahwa seorang pegiat kemanusiaan yang hendak membantu  masyarakay yang terdampak di wilayah konflik tidaklah cukup mengandalkan semangat saja, diperlukan kesabaran, kemampuan mengelola tekanan, membangun komunikasi di situasi yang serba tidak menentu, tidak gegabah dalam bertindak, menghormati kearifan lokal setempat, bersikap netral dan pastinya kekuatan ruh atau mental yang mampu membuatnya bertahan dari segala kesulitan.

Tomy, pegiat kemanusiaan PKPU, 23 Nov 2016

Rohingya dan Kepedulian Kita

Tanggal 9 Oktober lalu konflik berdarah kembali dialami oleh Suku Rohingya di Distrik  Maungdaw Utara, Rakhine State, setelah 4 tahun yang lalu mereka mengalami situasi yg sama masih di negara bagian yang sama. Bahkan penderitaan mereka saat ini jauh lebih parah. Tentara Myanmar mengerahkan pasukan bersenjata lengkap didukung dengan kendaraan perang baik darat maupun udara. Dengan dalih utk membasmi militan yang menyerang pos militer.


Sebagaimana penulis saksikan secara langsung ketika konflik awal terjadi pada tahun 2012, penindasan dan diskriminasi yang mereka alami dilakukan secara sistematis baik dalam hubungannya dengan urusan kewarganegaraan yang tidak diakui sejak Jendral Ne Win berkuasa hingga konflik secara horisontal yang menyebabkan mereka harus terusir dari tempat tinggalnya dan tidak sedikit diantara mereka harus menyabung nyawa melintasi samudera untuk menyelamatkan masa depannya.

Siapa pun kita, atas dasar kemanusiaan pasti merasakan  pedihnya penderitaan mereka. Banyak diantaranya masyarakat baik Indonesia maupun belahan dunia lainnya mengulurkan bantuan untuk mereka. Mereka berlomba untuk memberikan terbaik yang mereka bisa lakukan, baik finansial, doa bahkan menjadi relawan kemanusiaan yang terjun langsung menyalurkan bantuan kepada mereka. 

Tapi saudaraku, perjalanan masih panjang untuk mengurangi beban penderitaan mereka. Perlu mengatur nafas dan energi agar semangat dan daya tahan kita utk membantu mereka dapat berjangka panjang dan berkelanjutan. Dan tidak harus menunggu momentum saat kritis mereka. 

Pengalaman PKPU selama 4 tahun (2012- sekarang) mendampingi mereka di wilayah pusat konflik pertama di Kota Sitwe, Rakhine State memberikan pengalaman berharga bahwa bantuan untuk mereka tidak cukup hanya pada fase darurat saja tetapi juga pada fase recovery, agar mereka dapat bertahan di pengungsian dg sarana serba terbatas. Faktanya, bantuan yg didistribusikan pun makin terbatas seiring makin "sepinya" pemberitaan tentang keadaan mereka. Maka keperluan untuk membangun kolaborasi & sinergi dengan berbagai pihak juga bagian dari strategi untuk "memperpanjang nafas" mengurangi penderitaan saudara kita Rohingya. (Tomy, Pegiat Kemanusiaan PKPU, Nov 2016)                        



 
Support : Creating Website | Johny Template | Blognya Aria
Copyright © 2011. PKPU PURWOKERTO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger