Powered by Blogger.

Latest Post

PKPU Tetap Salurkan Bantuan Pengungsi Rohingya

RAKHINE - Situasi bergolak yang masih terus membayangi muslim Rohingya di Maungdaw tidak menyurutkan aktifitas bantuan kemanusiaan di Rakhine State.  Di tengah kekhawatiran pekerja kemanusiaan Internasional yang masih menahan diri untuk memberikan respon, Tim Lembaga Kemanusiaan PKPU berhasil menyalurkan bantuan langsung ke dalam pusat pengungsian (26-27/11).

Bantuan yang diberikan diantaranya berupa beras, 350 potong pakaian wanita serta makanan bayi dan anak-anak.  Para pengungsi menuturkan kekhawatiran mereka karena konflik yang terus meningkat. Konflik tersebut tentu saja sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan keamanan para pengungsi.

Selain melakukan penyaluran bantuan, tim PKPU juga melakukan pemantauan program yang selama ini terus berjalan di pusat-pusat pengungsian Rohingya di Negara bagian Rakhine khususnya di Sittwe. Di Kota yang menjadi ibu kota negara bagian Rakhine tersebut, tim PKPU memasuki perkampungan yang aksesnya oleh militer setempat terlarang dan masih tertutup oleh bantuan dari luar.

Pelarangan diperkuat dengan semakin meningkatnya pembakaran rumah-rumah dalam sebulan terakhir khususnya di bagian utara Myanmar. Seperti diketahui, bahwa perkampungan-perkampungan ini merupakan pusat aktifitas ekonomi dan pendidikan bagi anak-anak pengungsi Rohingya.

Kota Maungdaw dan Buthidaung akhir-akhir ini menjadi perhatian publik internasional ketika di awal Oktober lalu terjadi pembakaran rumah dan pengusiran penduduk di beberapa desa di wilayah utara Myanmar yang dihuni oleh Muslim Rohingya. (Kaimuddin/Putri/PKPU)

Tidak Cukup Bermodal Semangat

Menyampaikan bantuan di wilayah konflik sangatlah berbeda dengan memberikan bantuan di wilayah bencana alam. Di wilayah konflik, pegiat kemanusiaan harus cermat dan tepat dalam memberikan bantuan. Di mulai dari upaya mencari akses agar dapat masuk ke wilayah pusat konflik yg biasanya tertutup untuk orang asing. Terlebih lagi apabila konflik terjadi di luar negara kita yang memiliki perbedaan bahasa, budaya, perilaku dan tradisi/ agama yang pastinya akan menambah tingkat kesulitan untuk mengelolanya. 

Permasalahan tidak selesai ketika kita sudah mendapatkan akses masuk, tetapi menentukan pihak- pihak yg dianggap "netral" dan berani membantu memfasilitasi pendistribusian bantuan bukanlah perkara mudah. Bila salah langkah dan strategi bisa menjadi bumerang bagi diri maupun warga yg terdampak konflik. Konflik bisa kembali memanas dan keselamatan pegiat kemanusiaan pun menjadi taruhannya.

Untuk masuk ke wilayah hotspot konflik Rohingya pertama tahun 2012 di Sittwe, Rakhine State, penulis harus menunggu 4 hari di Kota Yangon. Sementara visa hanya berlaku untuk 7 hari.  Berbekal informasi terbatas bersama pegiat kemanusiaan Malaysia, Wan Yusof & Wan Zukri, penulis mencari para pihak yg dapat memfasilitasi perjalanan ke pusat konflik. Sempat putus asa, namun kekuatan terakhir ada pada doa yang senantiasa dilantunkan agar diberikan "rizki" untuk bisa masuk ke Sittwe. Ketika ada pihak yang menyanggupi, ternyata tidak semua travel agent mau menjual tiketnya. Alhamdulillah, ada relasi kenalan kami yang memiliki travel agent sehingga mau membantu menjual tiketnya. Dan itu pun 3 seat terakhir di penerbangan hari berikutnya.

Ketika tiba di Sittwe, dengan dibantu seorang pemberani bernama Chit Koko O kami mengellilingi Kota Pusat kerusuhan tersebut. Situasi belum terlalu kondusif, padahal sy datang 3 bulan paska puncak kerusuhan. Setelah mendapatkan pihak yang dapat dipercaya untuk menyalurkan bantuan  ke kedua komunitas yang berkonflik. Penulis tinggal selama 3 hari di Sittwe untuk bisa masuk ke pengungsian, masuk ke Kampung Aung Mingalar (satu-satunya kampung Rohingya yang selamat dari pembakaran dan kini terisolasi oleh militer & radikal buddhist) dan sisa2 pembakaran perkampungan Rohingya serta bertemu dengan pemerintah lokal Rakhine. Meskipun dilalui dg tingkat ketegangan yg tinggi, alhamdulillah misi berjalan dengan baik meskipun  penulis harus overstay selama 1 hari di Myanmar dan bersiap untuk diinterogasi oleh petugas imigrasi Myanmar di Bandara Yangon.

Pengalaman ini memberikan pesan kepada penulis bahwa seorang pegiat kemanusiaan yang hendak membantu  masyarakay yang terdampak di wilayah konflik tidaklah cukup mengandalkan semangat saja, diperlukan kesabaran, kemampuan mengelola tekanan, membangun komunikasi di situasi yang serba tidak menentu, tidak gegabah dalam bertindak, menghormati kearifan lokal setempat, bersikap netral dan pastinya kekuatan ruh atau mental yang mampu membuatnya bertahan dari segala kesulitan.

Tomy, pegiat kemanusiaan PKPU, 23 Nov 2016

Rohingya dan Kepedulian Kita

Tanggal 9 Oktober lalu konflik berdarah kembali dialami oleh Suku Rohingya di Distrik  Maungdaw Utara, Rakhine State, setelah 4 tahun yang lalu mereka mengalami situasi yg sama masih di negara bagian yang sama. Bahkan penderitaan mereka saat ini jauh lebih parah. Tentara Myanmar mengerahkan pasukan bersenjata lengkap didukung dengan kendaraan perang baik darat maupun udara. Dengan dalih utk membasmi militan yang menyerang pos militer.


Sebagaimana penulis saksikan secara langsung ketika konflik awal terjadi pada tahun 2012, penindasan dan diskriminasi yang mereka alami dilakukan secara sistematis baik dalam hubungannya dengan urusan kewarganegaraan yang tidak diakui sejak Jendral Ne Win berkuasa hingga konflik secara horisontal yang menyebabkan mereka harus terusir dari tempat tinggalnya dan tidak sedikit diantara mereka harus menyabung nyawa melintasi samudera untuk menyelamatkan masa depannya.

Siapa pun kita, atas dasar kemanusiaan pasti merasakan  pedihnya penderitaan mereka. Banyak diantaranya masyarakat baik Indonesia maupun belahan dunia lainnya mengulurkan bantuan untuk mereka. Mereka berlomba untuk memberikan terbaik yang mereka bisa lakukan, baik finansial, doa bahkan menjadi relawan kemanusiaan yang terjun langsung menyalurkan bantuan kepada mereka. 

Tapi saudaraku, perjalanan masih panjang untuk mengurangi beban penderitaan mereka. Perlu mengatur nafas dan energi agar semangat dan daya tahan kita utk membantu mereka dapat berjangka panjang dan berkelanjutan. Dan tidak harus menunggu momentum saat kritis mereka. 

Pengalaman PKPU selama 4 tahun (2012- sekarang) mendampingi mereka di wilayah pusat konflik pertama di Kota Sitwe, Rakhine State memberikan pengalaman berharga bahwa bantuan untuk mereka tidak cukup hanya pada fase darurat saja tetapi juga pada fase recovery, agar mereka dapat bertahan di pengungsian dg sarana serba terbatas. Faktanya, bantuan yg didistribusikan pun makin terbatas seiring makin "sepinya" pemberitaan tentang keadaan mereka. Maka keperluan untuk membangun kolaborasi & sinergi dengan berbagai pihak juga bagian dari strategi untuk "memperpanjang nafas" mengurangi penderitaan saudara kita Rohingya. (Tomy, Pegiat Kemanusiaan PKPU, Nov 2016)                        



Menjadi Pedagang yang Jujur

Jujur adalah sifat yang harus dimiliki setiap orang, tak terkecuali bagi pedagang. Apalagi, saat ini kejujuran menjadi salah satu poin service excellent dari pedagang kepada pembeli. Seperti halnya yang disampaikan oleh Ibu Fajar Riris kepada para ibu-ibu anggota KUMM Amanah, Jum'at pekan lalu, 18 November 2016. Kali ini para anggota KUMM Amanah mendapatkan materi tentang sifat jujur dalam pertemuan rutin dwi mingguan. Bu Riris, begitu sang narasumber kerap disapa, menyampaikan tentang Rasulullah SAW sebagai teladan kita dalam hal kejujuran. Apalagi, jujur atau siddiq merupakan salah satu sifat beliau. Dalam hal apapun beliau selalu jujur, termasuk berdagang. Bahkan, beliau tak segan menyampaikan harga modal dagangannya dan menyerahkan kepada pembeli untuk menentukan sendiri laba yang akan diberikan kepada beliau. Masya Alloh.

Bu Riris juga menekankan kepada ibu-ibu anggota KUMM Amanah untuk menghindari menggunakan trik yang mengandung unsur kebohongan untuk merayu calon pembeli. Contohnya mengatakan kepada calon pembeli bahwa sebelumnya ada calon pembeli lain yang menawar dengan harga lebih mahal dari tawaran calon pembeli tersebut, padahal sebelumnya belum ada satupun calon pembeli yang menawar. Selain itu, pedagang juga sangat dilarang mengurangi timbangan, karena itu termasuk kebohongan. Sehalus apapun trik-trik yang digunakan, Bu Riris sangat menegaskan untuk tidak menggunakannya. Karena hal itu dapat menghambat kelancaran rezeki si penjual dan tentunya mengurangi keberkahannya.

Berikut rangkuman materinya kami sajikan untuk pembaca setia blog PKPU Purwokerto.

- JUJUR -

Makna jujur:
1. Perkataan sama dengan perbuatan
2. Informasi sama dengan kenyataan
3. Ada ketegasan dan kemantapan hati
4. Sesuatu yang baik tanpa adanya kedustaan

Hikmah jujur:
1. Membuat hati tenang
2. Mendapat kemudahan dalam hidup
3. Selamat dari azab Alloh dan bahaya yang dapat menimpa
4. Dijamin masuk surga
5. Dicintai oleh Alloh dan rasul-Nya

Manfaat jujur:
1. Dipercaya
2. Disayang
3. Diberi kemudahan

Contoh jujur:
1. Menyimpan rahasia
2. Jujur dalam mencari nafkah
3. Memegang amanah

Semoga kita dapat menerapkan sifat jujur dalam kehidupan kita sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (nena/pkpu/pwt)

IZI Jateng Gulirkan Beasiswa untuk Siswa SMKN 1 Purwokerto

Penerima beasiswa SMK IZI Jateng diapit Bapak Khaerul (paling kanan),
Bapak Arif (kedua dari kiri), dan Achmad Aria (paling kiri)
Purwokerto - Selasa, 8 November 2016 menjadi momen istimewa bagi Alif, Arif, Ufik, Danis, dan Dienie. Mereka adalah lima siswa SMKN 1 Purwokerto yang lolos seleksi menjadi penerima beasiswa SMK IZI Jateng 2016. Dan Selasa kemarin mereka resmi mulai menerima beasiswa tersebut. Rencananya, beasiswa akan diberikan setiap bulan selama satu tahun.

Acara dibawakan oleh MC dari SMKN 1 Purwokerto
Bapak Khaerul mewakili Kepala SMKN 1 Purwokerto memberikan sambutan
Acara yang dikemas dengan tajuk Serah Terima Beasiswa SMK IZI Jateng ini dihadiri oleh perwakilan pihak sekolah, perwakilan IZI Jateng di Purwokerto, dan kelima penerima beasiswa. Dalam sambutannya, Bapak Khaerul selaku pihak yang mewakili Kepala SMKN 1 Purwokerto menyampaikan rasa terima kasihnya kepada IZI Jateng atas beasiswa yang digulirkan bagi siswa mereka. Beliau menyatakan bahwa visi SMKN 1 Purwokerto saat ini memang menciptakan lulusan yang religius. Di sekolah, terdapat program yang menekankan kewajiban sholat lima waktu. Bahkan, siswa siswi SMKN 1 Purwokerto didata untuk mengetahui berapa banyak yang masih tidak rutin menjalankan sholat lima waktu. Kepala SMKN 1 Purwokerto menyampaikan bahwa lebih dari 1.800 siswa di SMKN 1 Purwokerto menjadi tanggung jawab para guru ketika mereka berada di sekolah. Dan pertanggungjawaban itu bukan hanya di dunia, tetapi juga akan ditanyakan di akhirat kelak.

Penyerahan Beasiswa SMK IZI Jateng secara simbolis

Sambutan dari perwakilan IZI Jateng, Achmad Aria
Hal ini sejalan dengan misi IZI Jateng dalam program beasiswanya, seperti yang disampaikan oleh Achmad Aria, perwakilan IZI Jateng di Purwokerto. Bukan hanya membantu para siswa meringankan biaya sekolahnya, tetapi juga meningkatkan softskill dan sisi keagamaan mereka. Hal ini diwujudkan dengan program pendampingan yang juga dilakukan setiap bulan. Pendampingan ini akan diisi oleh narasumber yang berpengalaman sesuai bidangnya, dengan tujuan meningkatkan skill para penerima beasiswa sesuai dengan jurusan mereka di sekolah saat ini. Selain itu, dari sisi ibadah mereka juga akan dibina melalui kontrol ibadah harian. Di akhir program, para penerima beasiswa dipersilakan membuat semacam proposal wirausaha yang mereka inginkan. Bagi yang lolos seleksi akan diberi bantuan modal untuk mewujudkan wirausaha tersebut. (nena/pkpu/pwt)

Cerita Unik Nan Menginspirasi Di Balik Arisan Jamban Banteran

Jamban di rumah Ibu Chosimah
Tak terasa arisan jamban sudah berjalan kurang lebih selama 6 bulan. Tentu saja banyak hal menarik yang terjadi selama periode waktu tersebut. Dari mulai pusingnya memanfaatkan dana hasil arisan yang mepet, hingga momen mengharukan saat para anggota saling bahu membahu membantu rekannya yang tengah membangun jamban. Berikut kami sajikan beberapa ulasannya.

1. Pusingnya memikirkan bagaimana caranya agar uang Rp 1.200.000 dapat untuk membangun 1 unit jamban berikut septic tank?

Saat itu yang mendapatkan arisan pertama kali adalah Ibu Chosimah. Ia menerima sebesar Rp 1.200.000 yang berasal dari iurang Rp 100.000 dari 12 anggota arisan. Apakah itu uang banyak? Tentu saja banyak, sampai jutaan. Tapi kalau untuk membuat jamban? Tentu saja itu jumlah yang minimalis alias sedikit. Untunglah Ibu Chosimah sudah memiliki ruangan di bagian belakang rumahnya yang biasa digunakan untuk mencuci dan mandi, sehingga pembangunan jamban pun memanfaatkan ruangan tersebut. Dana arisan digunakan untuk menempatkan closet, menyekat ruangan, dan membuat septic tank di sebelah rumah. Septic tank-nya pun dibuat sesederhana mungkin, menggunakan 2 buah bis yang disusun ke bawah.

Berarti dana arisannya lebih? Tentu saja tidak. Dana itu masih kurang meskipun sedikit, dan Ibu Chosimah tetap harus mengeluarkan uang tambahan. Jadi, programnya tidak berhasil? Justru ini menunjukkan keberhasilan program. Tujuan program seperti ini adalah untuk memberdayakan masyarakat agar mereka mampu mandiri menciptakan kemajuan bagi dirinya sendiri. Kalau dalam konsep pemberdayaan masyarakat, maka ini adalah program bottom-up, yang menginisiasi masyarakat untuk mampu berubah ke arah lebih baik dengan kekuatan sendiri. Program arisan jamban ini bukan bertujuan untuk semata-mata membangun jamban yang megah, tetapi lebih kepada memicu masyarakat memiliki jamban dan mengubah perilaku BABS dengan kemampuannya sendiri. Namun bukan berarti kita tidak terbuka kepada para donatur yang berkenan membantu pelaksanaan program ini. Kami siap menyalurkannya untuk semakin memperbaiki kualitas jamban yang dibangun.

2. Sumbangan unik dari para anggota arisan jamban saat pembangunan jamban berlangsung

Saat pembangunan jamban di rumah Ibu Chosimah, para anggota arisan jamban beramai-ramai datang menengok. Mereka membawa berbagai macam "sumbangan" seperti makanan dan camilan untuk para laki-laki yang bekerja membangun jamban. Mereka melakukan itu atas dasar kesadaran masing-masing, terutama bagi mereka yang suaminya tidak dapat ikut bergotong-royong. Ini menjadi salah satu tolak ukur bahwa program arisan jamban telah berhasil meningkatkan tali silaturahim dan semangat gotong royong antar anggota pada khususnya, dan antar warga pada umumnya.

3. Jamban kilat menjelang hajatan

Saat rembug warga sebelum pembentukan arisan, banyak warga yang memilih mundur. Memang banyak warga yang menyatakan salah satu alasan mereka belum memiliki jamban adalah karena tidak adanya dana. Berdasarkan hasil pengamatan tim PKPU dan pendamping PKH Banteran, Kiki Marhendrie, selama ini kendala utama yang sebenarnya bukanlah semata-mata karena keterbatasan ekonomi, melainkan kurangnya motivasi. Ini terbukti saat kami mendengar berita bahwa ada salah satu anggota arisan yang sudah membuat jamban sebelum namanya keluar dari kocokan. Ternyata motivasinya karena ia akan mengadakan hajatan dan tidak ingin keluarga dan para tamunya bingung ketika akan BAK dan BAB. Ini menjadi bukti bahwa mereka sebenarnya bisa membangun jamban asal ada tekad dan kemauan.

4. Arisan jamban menambah motivasi anggota untuk memiliki jamban sendiri

Sebelum sebuah jamban berhasil dibangun, bahkan sebelum program arisan jamban dimulai, masih tersirat sedikit keraguan di wajah para anggota arisan. Saat pertama dibentuk, arisan jamban ini beranggotakan 15 orang, namun kemudian 3 orang mengundurkan diri sebelum arisan sempat dikocok. Namun apa yang terjadi setelah sebuah jamban berhasil terbangun di rumah Ibu Chosimah membuat kami merasa terharu. Kami melihat semangat para anggota semakin bertambah.

Bu Wagiyah, anggota yang beruntung mendapat arisan periode kedua, sebelum mendapat arisan telah membeli closet dan bahkan sekaligus berniat memperbaiki sumurnya. Seiring berjalannya program ini ia semakin termotivasi untuk bisa memiliki jamban dan mengubah perikau BABS menjadi BAB di jamban.

Itulah sekelumit keunikan di balik program arisan jamban di Desa Banteran. Semoga menginspirasi dan membangunkan kembali semangat kita akan gotong royong khas rakyat Indonesia. (nena/pkpu/pwt)

Arisan Jamban Periode 2, Selamat Bu Wagiyah

Lokasi kamar mandi yang akan dibangun jamban di rumah Ibu Wagiyah
Arisan jamban periode 2 baru saja dikocok pada Minggu, 14 Agustus 2016. Kali ini yang beruntung adalah Ibu Wagiyah. Ibu Wagiyah dan suaminya memang sudah memimpikan memiliki jamban sendiri. Berkat pemicuan Stop BABS dan pembentukan arisan jamban, Ibu Wagiyah semakin bersemangat mewujudkan impiannya. Hal ini terbukti ketika tim PKPU bersama pendamping PKH Desa Banteran, Kiki Marhendrie, mensurvey lokasi yang akan dibangun jamban di rumah Ibu Wagiyah. Beliau menyampaikan bahwa sebelum mendapat arisan beliau sudah menyiapkan closet. Selain itu, beliau juga sudah menyiapkan lokasi septic tank yang ideal.


Rencana lokasi septic tank berjarak kurang lebih 10 meter dari sumber air

Sumber air berupa sumur gali
Rumah Ibu Wagiyah (tampak depan)
Saat ini tengah dipersiapkan bahan dan material yang diperlukan untuk pembangunan. Pembangunan akan dilaksanakan dengan sistem gotong royong, terutama bagi mereka para anggota arisan jamban. Sistem gotong royong selain mempererat tali kekeluargaan juga merupakan alternatif untuk mengurangi biaya ongkos tukang. Apalagi jumlah nominal arisan yang tidak banyak, yaitu Rp 1.200.000, sehingga diperlukan alternatif-alternatif untuk memangkas anggaran. (nena/pkpu/pwt)

PKPU Fasilitasi Mustahik Kursus Menjahit

Dewi, Wahyono, dan Paryati (membawa tas) diapit oleh Ibu Mursidah, Ibu Wahyu Ekowati, dan petugas PKPU Purwokerto

Raut bahagia terpancar dari wajah Wahyono, Dewi, dan Paryati. Senin, 1 Agustus 2016, mereka mengunjungi tempat kursus jahit "Diana" ditemani oleh Ibu Wahtu Ekowati (Dosen Keperawatan UNSOED), Mbak Asri (mahasiswa Keperawatan UNSOED), serta petugas dari PKPU Purwokerto. Kunjungan ini merupakan kunjungan awalan sebelum ketiga orang tersebut mengikuti pelatihan jahit di tempat tersebut.

Bu Mursidah, pemilik sekaligus pengajar di kursus jahit "Diana" menyambut baik kedatangan kami. Beliau menjelaskan tentang apa saja yang perlu disiapkan sebelum memulai kursus. Beliau juga berpesan kepada Wahyono, Dewi, dan Paryati agar mereka tekun dalam mengikuti setiap tahap kursus selama kurang lebih 6 bulan ke depan.

Wahyono, Dewi, dan Paryati merupakan warga Desa Linggasari, Kec. Kembaran. Mereka bertiga berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah dan merupakan mantan penderita gangguan psikologis yang kini sudah membaik dan masih dalam pengawasan Ibu Wahyu. Sebelumnya mereka memang dibina secara rutin oleh beliau sehingga bisa berangsur-angsur pulih. Sebagai bentuk perhatian terhadap masa depan mereka, Ibu Wahyu sebagai pihak dari Laboratorium Keperawatan Jiwa UNSOED bekerja sama dengan PKPU Purwokerto memfasilitasi mereka untuk mengikuti kursus menjahit. Alhamdulillah, mereka menyambut baik ajakan tersebut dan berkomitmen untuk tekun berlatih demi upaya mewujudkan masa depan yang lebih baik. (nena/pkpu/pwt)

PKPU-IZI Bagikan Ratusan Paket Lebaran


Bulan Ramadhan tahun ini PKPU kembali membagikan ratusan paket lebaran untuk masyarakat, khususnya kaum dhuafa. Paket yang berisi bahan makanan pokok seperti beras, minyak, dan kue khas lebaran ini dibagikan ke beberapa daerah di Banyumas. Total lebih dari 400 paket dibagikan ke Kelurahan Purwanegara, Desa Sokawera, Purwokerto Timur, Bancarkembar, Kranji, Sokanegara, dan beberapa desa di Kecamatan Sumbang. Adapun sebanyak hampir 200 paket lebaran dibagikan bersamaan dalam acara santunan yatim dan buka bersama, bekerja sama dengan Sambas Rumah Bermain (SRAMBI). Acara ini digelar di aula Fakultas Kedokteran Unsoed. Ucapan trimakasih diucapkan juga kepada para orang tua / wali murid SDIT Harapan Bunda serta donatur IZI - PKPU yang tidak disebutkan satu persatu.





Pembagian paket lebaran sudah menjadi program rutin PKPU setiap ramadhan tiba. Untuk tahun ini, PKPU berkolaborasi dengan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) yang merupakan lembaga zakat baru hasil spin off dari PKPU. Paket lebaran yang dibagikan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para keluarga di wilayah Banyumas, khususnya mereka yang tergolong dhuafa, agar mereka dapat merayakan lebaran dengan suka cita. (nena/pkpu/pwt)

Rangkaian Ifthor Ramadhan IZI 1437 H


Ramadhan 1437 H merupakan ramadhan pertama bagi Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), sebuah lembaga zakat baru yang merupakan hasil spin off dari PKPU. Ramadhan ini menjadi momen bagi IZI untuk mengadakan berbagai macam kegiatan penyaluran dana zakat, salah satunya ifthor jama'i atau buka puasa bersama.


Total 200 orang dari Desa Pejogol, Kec. Cilongok dan Desa Purbadana, Kec. Kembaran mengikuti kegiatan ifthor jama'i ini. Ifthor jama'i di Desa Pejogol bertempat di balai desa. Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Desa Pejogol, Bapak Arwan, serta sambutan dari perwakilan IZI/PKPU, Bapak Khoirul Khotim. Setelah sambutan, dilakukan serah terima bantuan paket ifthor secara simbolis. Sementara untuk menunggu waktu berbuka, acara diisi dengan tausyiah dari ustadz lokal setempat, Ustadz Khoirul, tentang keutamaan Lailatul Qadar dan kewajiban membayar zakat fitrah.



Sementara untuk ifthor jama'i di Desa Purbadana bertempat di Mushola At-Taqwa. Acara dimulai dengan sambutan dari ketua takmir dan perwakilan IZI, Achmad Aria. Selain itu, dilakukan pula serah terima bantuan paket ifthor. Tausyiah menjelang waktu berbuka disampaikan oleh ustadz lokal setempat, Ustadz Tabah. Beliau menyampaikan tentang pentingnya menjaga kualitas ibadah di bulan-bulan pasca Ramadhan.




Rangkaian kegiatan ifthor jama'i ini merupakan bentuk penyaluran zakat dari para muzakki IZI untuk masyarakat di wilayah-wilayah yang mayoritas kurang mampu. Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan berbagi nikmat berbuka puasa, terutama bagi mereka yang tidak setiap hari bisa menikmati menu berbuka yang seimbang. (nena/pkpu/pwt)

Uniknya Buka Puasa Bersama Penerima PKH Desa Banteran


Desa Banteran merupakan salah satu desa dengan penerima dana Program Keluarga Harapan (PKH) dalam jumlah besar. Dalam manajemennya, pendamping PKH desa ini, Kiki Marhendrie, berupaya untuk memberdayakan mereka dalam berbagai bentuk kelompok usaha. Kelompok usaha tersebut di antaranya dalam usaha produksi batu bata dan budidaya tanaman anggrek. Jadi, mereka bukan hanya menjadi penerima dana secara pasif, tetapi juga memberdayakan diri secara aktif. 

Selain berdaya secara ekonomi, Kiki juga berupaya agar mereka mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar, salah satunya mengenai masalah kepemilikan jamban. Warga Desa Banteran memang banyak yang belum memiliki jamban dan lebih senang BAB di sungai atau tempat lain. Oleh karena itulah, bertemu dalam satu visi yang sama, Kiki bekerja sama dengan PKPU berupaya mengubah perilaku BAB sembarangan dalam program arisan jamban.

Dalam momen Ramadhan 1437 H ini, Kiki tak ketinggalan menyelenggarakan buka puasa bersama. Sebanyak lebih dari 400 orang mengikuti acara ini. Mereka terdiri dari 300 orang lebih penerima dana PKH dan sisanya merupakan pihak desa, PKPU, dan pihak-pihak terkait. Acara ini diselenggarakan di balai desa, diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Banteran, Camat Sumbang, dan dari Kiki Marhendrie sendiri. Yang unik dalam acara ini adalah menu buka puasa disajikan dalam bentuk tumpeng sebanyak 40 buah.

Selain berbuka puasa dengan menu yang unik, dalam acara ini tak lupa PKPU juga memberikan santunan kepada 19 anak yatim berupa paket alat tulis dan susu pertumbuhan yang merupakan donasi dari Kalbe Nutritionals Purwokerto. (nena/pkpu/pwt)

Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan Bersama Kalbe Nutritionals


Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, oleh karena itulah setiap orang berlomba-lomba melakukan amalan terbaiknya di bulan ini. Begitu pula halnya dengan Kalbe Nutritionals Purwokerto yang bekerja sama dengan PKPU untuk menyalurkan dana infaq yang terkumpul dari para karyawan. Pada Ramadhan 1437 H ini, pihak Kalbe memberikan bantuan berupa paket ifthor jama'i (buka bersama), paket santunan yatim, dan paket susu Zee, susu pertumbuhan untuk anak 1 tahun ke atas.




Ifthor jama'i dan santunan yatim diselenggarakan di Desa Petir, Kec. Kalibagor. Bertempat di balai desa, sebanyak 37 anak yatim bersama puluhan karyawan Kalbe Nutritionals menikmati buka puasa bersama. Sebelum berbuka, diadakan seremonial acara yang berisi sambutan dari pihak desa serta dari Kepala Cabang Kalbe Nutritionals Purwokerto, Ibu Agatha. Selain itu, sembari menunggu adzan maghrib, para anak yatim dan karyawan Kalbe Nutritionals mendengarkan tausyiah yang disampaikan oleh Ustadz Sigit Gunarto yang merupakan ustadz lokal setempat. Dalam acara tersebut juga diberikan paket alat tulis, uang saku, dan satu pack besar susu Zee untuk para anak yatim.



Selain untuk anak yatim Desa Petir, paket susu Zee juga diberikan untuk anak yatim di Desa Banteran, Kec. Sumbang serta anak-anak dhuafa di Wangon dan Jatilawang. Penerima manfaat di Banteran sebanyak 19 anak yatim. Sementara penerima manfaat di Wangon sebanyak 190 anak dari keluarga penerima dana Program Keluarga Harapan (PKH). Paket susu diberikan bersama kegiatan penyuluhan tentang ASI Eksklusif yang disampaikan oleh narasumber dari Puskesmas Wangon. Untuk penerima manfaat di Jatilawang sebanyak 50 anak dari TPQ setempat. (nena/pkpu/pwt)

Nikmatnya Ifthor Jama'i Warga Desa Purbadana


Ifthor jama'i atau lebih familiar dengan istilah buka bersama sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia jika bulan Ramadhan tiba. Mereka mengadakannya bersama dengan keluarga, teman, rekan kerja, bahkan dikemas dalam acara reuni.



Pada Ramadhan 1437 ini, PKPU menyelenggarakan ifthor jama'i di Desa Purbadana, Kec. Kembaran. Acara ini bertempat di Mushola At-Taqwa, dimulai dengan sambutan dari ketua takmir. Selain itu, dilakukan pula serah terima bantuan paket ifthor. Tausyiah menjelang waktu berbuka disampaikan oleh ustadz lokal setempat, Ustadz Tabah. Beliau menyampaikan tentang pentingnya menjaga kualitas ibadah di bulan-bulan pasca Ramadhan.


Program ifthor jama'i merupakan program Ramadhan rutin PKPU setiap tahun. Ratusan warga di wilayah Banyumas telah menjadi penerima manfaat dalam program ini. Tujuan dari program ini adalah untuk berbagi nikmat berbuka puasa kepada masyarakat, terutama dengan mereka yang kurang mampu. Selain itu, program ini juga dapat mempererat tali persaudaraan antar warga dan menghilangkan jarak antara PKPU dengan masyarakat. (nena/pkpu/pwt)

Bukan Hanya Ibu-ibu, Anak Yatim Juga Bisa Belanja


Tak bisa dipungkiri, bulan Ramadhan di Indonesia identik dengan ramainya masyarakat mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan, terutama para ibu. Demi menyambut Idul Fitri, masyarakat mempersiapkannya dengan membeli berbagai kebutuhan mulai dari kebutuhan makanan hingga pakaian. Banyak yang berkomentar bahwa euforia seperti ini adalah pemborosan, namun tidak jika masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka serta sebatas ingin ikut memeriahkan hari raya yang hanya mereka temui satu tahun sekali ini. Oleh karena itulah, PKPU mengadakan sebuah kegiatan tahunan bertajuk Belanja Bareng Yatim (BBY), agar anak yatim  juga ikut berbahagia layaknya anak-anak pada umumnya dalam menjalani bulan Ramadhan dan menyambut Idul Fitri. Apalagi tidak setiap saat mereka bisa membeli barang-barang yang mereka butuhkan.


BBY pada Ramadhan 1437 H ini diadakan di Toserba Jadi Baru yang terletak di Kecamatan Sumpiuh, Banyumas. Adapun kegiatan ini terselenggara berkat donasi dari para donatur PKPU, IZI, PAUD SRAMBI (Sambas Rumah Bermain), Orang Tua Murid SDIT Harbun dll. Sebanyak 49 anak yatim dari berbagai daerah di Banyumas seperti Kemranjen, Tambak dan dari Sumpiuh sendiri mengikuti kegiatan ini. Sekitar jam 10 pagi mereka telah siap di lokasi. Didampingi para relawan dari PKPU, mereka berbelanja berbagai kebutuhan terutama kebutuhan menyambut Idul Fitri sekaligus kebutuhan menyambut tahun ajaran baru. Rata-rata para anak yatim membeli buku tulis, makanan, dan pakaian.




Ilham Priyadi, salah satu anak yatim yang mengikuti BBY, menyatakan senang dan berterima kasih kepada PKPU yang telah mengadakan kegiatan ini. Dengan adanya BBY, mereka dapat membeli kebutuhan sendiri sesuai selera mereka. Jadi, bukan hanya ibu-ibu, anak yatim juga bisa belanja. (nena/pkpu/pwt)

Warga Adipala Antusias Ikuti Pelatihan Batik dari Indonesia Power

Mbah Karsiem (paling kanan) tampak semangat mengikuti pelatihan batik meski usianya sudah 70 tahun
Selasa-Rabu (7-8 Juni 2016) telah digelar pelatihan membatik untuk warga Adipala. Sebanyak 17 orang mengikuti pelatihan ini. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari PT Indonesia Power sebagai langkah awal mengembangkan potensi batik di wilayah tersebut. Sejak awal berdiri di Desa Bunton, Kec. Adipala, Kab. Cilacap, PT Indonesia Power memang terus memberi perhatian pada warga di sekitar dalam bidang ekonomi, kesehatan, maupun kelengkapan infrastruktur.

Bapak Camat Adipala menyampaikan sambutannya
Peralatan membatik siap digunakan untuk pelatihan
Bapak Khoirul Khotim (Kepala PKPU Purwokerto) meninjau peserta yang tengah berlatih menggambar pola
Proses pewarnaan kain yang sudah digambar
Salah satu peserta menunjukkan kain hasil karyanya
Foto bersama di akhir pelatihan
Menangkap potensi kain batik asal Adipala, PT Indonesia Power melalui program CSR-nya memiliki gagasan untuk menciptakan Adipala sebagai kampung batik. Untuk mewujudkan gagasan ini, tentu banyak langkah yang harus ditempuh, salah satunya mengadakan pelatihan bagi warga agar potensi mereka semakin terasah. Dengan bermitra bersama PKPU Purwokerto, PT Indonesia Power telah banyak melaksanakan program seperti pembangunan jamban umum, IP Mengajar, dan yang kini tengah dirintis sebagai program jangka panjang adalah pengentasan gizi buruk serta menciptakan kampung batik. (nena/pwt)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Blognya Aria
Copyright © 2011. PKPU PURWOKERTO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger